Archive for September, 2006|Monthly archive page

Hobiku…!

weeyy…

sekarang aQ punya hobi baru! aQ jadi seneng ngedonlot lagu anime.. hehehe.. biasanya aQ ngedonlotnya di http://www.gendou.com/amusic (kakaknyuu makasih banyak yaa… n_n) keren nyu.. disitu lagunya lengkaaaap banget! instrumental ampe remix-nya juga ada.. bagi kalian penggemar anime, ngedonlot disini aja nyuu..

(eh itu namanya promosi ya? hehehehe)

tapi gara2 itu.. tampaknya tagihan teleponku sangat jeblok. seminggu ini, gara2 libur dan sendirian di rumah aQ oL mulu deh biar ada kerjaan ama chat ama temen2… kangen c.. 😦 yaah.. mo gimana lagi dong?

Advertisements

Ding! Dong! Dang! – TUBE – Naruto The Movie2

Miezu ni ita monoya shira naide ita koto ni
Fure youto suru
koto wa mono sugoku itainda

Nakidashitakute
nigedashitakunaru
Boku datte sou sa kimi hitori dake ja
nai

Imi nai doryoku ya muda na deai toka
Aru
wake nai kara kobushi wo katamete Ding! Dong! Dang!

Ikura te wo nobashite mo todoka nai kono hana mo
Kimi to
te wo tsunageba kantan ni tsukameru yo

Surechigattari
gokai shiattari
Shinjiru tame ni kenka mo suru keredo

Kyou ni kizutsuite namida de nurete mo
Issho ni
ikou yo bokura no ashita he Ding! Dong! Dang!

Sotsugyou shitemo otona ni nattemo
Kimi wa kimi deite
boku wa bokura shiku

Miageta sora wa hateshinaku
tsuduku
Saegiru mono wa nani hitotsu nai hazu

Imi nai doryoku ya muda na deai toka
Aru wake naikara
kobushi wo katame Ding! Dong!

Boku ni tari nai mono
wa kimi ga kureru
Kimi ni nai mono wa boku ga ageru kara
Ding! Dong! Dang!

Telepon Umum Koin Berjasa

 

Hari Senin yang gelap. Cahaya Matahari nan terik itu terutup oleh awan hitam yang besar. Kelihatannya akan hujan sangat lebat. Aku duduk terdiam menatap ke luar melalui jendela kelas. Aku duduk tepat di samping jendela. Biasanya aku menatap ke luar jendela dengan perasaan senang. Matahari yang terik menyinari tanaman hijau di depan kelasku, angin sepoi-sepoi mengajak pohon-pohon rindang dan bunga-bunga yang bermekaran untuk menari bersama. Benar-benar indah. Tetapi hari ini… nihil… seharian ini Sang Surya tidak mengeluarkan cahaya indah nan hangat itu. Hanya tertutup oleh awan gelap. Walaupun demikian, hujan tak kunjung turun. Gelap… gelap… dan gelap. Hhhh… bosan…

Jam 2 siang, seharusnya bel SMP Harapan Bangsa sudah berbunyi. Tetapi tidak kunjung bunyi.

Tet… tet… tet…

Bel 3 kali… Akhirnya pulang juga setelah 8 jam di sekolah. Kukira perasaanku akan membaik tapi ternyata… perasaanku kian memburuk. Rintik-rintik hujan yang deras sudah turun di hadapanku. Terpaksa aku meminta jemput Pak Tito, supirku. Aku segera mengeluarkan handphone Nokia 3230ku dan segera menelepon pria separuh baya itu. Dalam waktu 20 menit, mobil yang kunanti sejak lama datang menjemputku. Seorang pria berkemeja putih dan bercelana hitam datang menghampiriku dengan membawa payung sambil menawarkan bantuan.

“Nona Rein, maaf membuat Anda menunggu. Mari saya bawakan tas Anda…” tawar Pak Tito dengan sopan.

“Tidak usah, Pak. Biar saya bawa sendiri. Tas ini cukup berat…” tolak aku. Aku agak ragu kalau pria setengah baya ini menawarkan bantuan. Aku merasa sudah merepotkan dia… dengan diiringi Pak Tito yang membawa payung, aku segera berjalan menuju mobil Avanza berwarna silver yang sudah menantiku di seberang Jalan Cendana yang lebar ini. Dengan cepat, Pak Tito membawaku pulang menerobos hujan yang deras ini.

***

Dalam perjalanan menuju rumah dan hujan pun sudah reda, aku melihat sebuah telepon umum koin yang tidak terurus. Dalam hati aku berkata,

“Hari gini masih ada telepon umum koin. Cih… udah gak zaman. Sekarang kan udah ada handphone. Buat apa ada telepon umu koin. Gak ada guna. Cuma dipakai sama orang kampung saja. Udah gitu tempatnya kotor, jorok, ih jijik… Seumur hidup aku gak mau pakai telepon umum koin!” Itulah yang aku katakan mengenai telepon umum koin yang ada di tempat pembuangan sampah, sampai kejadian itu terjadi.

***

Jalan Permata Biru No. 4. Rumahku yang cukup mewah dan besar. Bertingkat dua, lebar, memiliki halaman yang luas, ada kolam renang, dan garasi yang luas. Mungkin ini lebih dari cukup mewah. Saat aku masuk, seorang wanita yang tinggi menghampiriku. Dia menyambutku dengan senyum. Senyuman hangatnya itu hampir setiap hari aku dapatkan darinya. Siapa lagi kalau bukan ibuku.

“Eh… Udah pulang Riri sayang…” sahut ibuku. Beliau memanggilku dengan nama panggilanku saat kecil.

“Ibu… Jangan panggil Rein kayak gitu… Itu kan dulu…” sahutku akrab. Memang aku dan ibuku sangatlah akrab. Seperti layaknya berteman.

“Gak apa-apa dong… Ibu kan suka panggil Rein kayak gitu. Oya, hari ini Ayah pulang malam. Ada rapat penting.”

“Lho… bukannya itu sudah menjadi kebiasaan Ayah. Pulang malam dengan alasan rapat penting…” Memang… kebiasaan ayahku setiap hari. Ayahku adalah seorang manajer suatu perusahaan terkenal di Bandung. Tidak aneh kalau setiap hari ada rapat.

“Iya… iya… jangan judes kayak gitu donk…”

“Rein gak judes kok, Bu… Udah ya Rein mau ganti baju dulu…”

“Iya, habis itu turun lagi yah… Ibu udah siapin makanan kesukaanmu…”

“Pasti… demi ayam kecap!” Ya… ayam kecap adalah makanan kesukaanku sejak kecil. Nyam… Ayam yang digoreng sampai kering, disiram dengan saus kecap. Kecapnya meresap sampai ke daging. Nyam… Aku segera berlari ke kamarku di lantai dua, segera ganti baju dan sebelum ke bawah, aku melihat layar handphone Nokiaku. Mungkin saja ada missed call atau sms dari dia. Ternyata nihil… sama sekali tidak ada missed call atau sms yang datang. Dengan perasaan kesal dan sedikit perasaan senang, aku berlari ke bawah dan segera duduk di depan meja yang sudah tersedia nasi, tempe goreng, sayur asem, dan ayam kecap. Yam… aku segera memulai makan siangku dan tanpa kusadari aku makan hingga habis dua piring.

***

Dengan perut kenyang, aku segera kembali ke kamarku untuk mengerjakan tugas. Tanpa kusadari hari sudah larut. Aku bergegas untuk mandi. Setelah itu aku akan segera shalat Ashar dan mengerjakan tugas matematika. Setelah itu makan malam dan mengerjakan tugas sejarah, niatku dalam hati. Mungkin hari ini aku akan begadang lagi. Kenapa tidak? Untuk mengerjakan tugas sejarah, aku membutuhkan waktu 2-3 jm. Ditambah dengan jumlah soalnya yang mencapai 50 soal! Gila… maklum, itulah tugasku sebagai pelajar kelas 2 SMP.

***

Jam 8 malam… Ya ampun!!! Aku ketiduran di atas meja! Syukur tugas matematikaku sudah selesai. Aku segera ke bawah untuk makan malam. Di meja malam terlihat sosok wanita tua yang masih sehat dan segar bugar mau membereskan meja makan.

“Ya ampun… Mbok rah! Rein blom makan!” teriak aku.

“Eh Non Riri… Maaf Non… Mbok kira Non udah makan… Pantes aja Mbok liat Ibu makan sendirian. Kirain Non makannya di kamar…” jawab Mbak Rah.

“Maaf… maaf… Tadi Rein ketiduran… cape…”

“Ya udah… Mbok tinggal dulu ya…” Mbok Rah segera berbalik dan meninggalkan aku sendirian di meja makan. Sendirian… Hiii… Takut ah… Maka aku segera embawa piring yang berisi nasi, gepuk, sayur asem, dan ayam kecap ke kamar dan segera memulai acara makan malam sendirian.

***

Makan malam, selesai… Shalat Isya, selesai… Tugas matematika, selesai… Tugas sejarah, belum… Tinggal tugas sejarah yang belum aku kerjakan. AYO BERJUANG!!! teriak aku dalam hati. Dengan semangat membara, aku segera mengerjakan tugas sejarah. Saat aku membuka buku cetak sejarahku, terdengar samar-samar suara ringtone polyphonic yang sebenarnya sudah tidak asing lagi. Maklum samar-samar karena handphone tersebut aku letakkan di bawah bantal yang sudah menjadi kebiasaanku. Saat aku melihat layar handphoneku, aku langsung tersenyum. Dan tanpa ragu-ragu dan lama-lama lagi aku segera menerima telepon itu karena yang menelepon itu adalah…

“Reza!” teriak aku.

Honey… kok teriak-teriak begini…” jawab seseorang di seberang.

“Gak pa-pa kan?”

“Gak pa-pa sih… Tapi…”

Pembicaraan terus berlanjut dan tanpa kusadari jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Karena lelah, aku segera tidur. Kalau soal sejarah, tinggal nyontek ke teman aja di sekolah, niatku dalam hati. Lagipula, sejarah jam pelajaran terakhir. Dengan tenang, aku segera terbawa ke alam mimpi.

***

DUK DUK DUK!

“Riri… Riri… Riri, cepat bangun nak!”

Hem… Ribut amat… Lho kok malam-malam panas ya? Dilihatku jam dindingku. Jam 2 malam… Aku segera bangun dari tempat tidurku dan kubuka pintu kamarku. Aduhai… panas! Klihat seorang wanita tinggi bernafas terengah-engah dan terbatuk-batuk. Dan wajahnya penuh noda hitam… kenapa? Kulihat seperti terburu-buru.

“Ayo nak! Cepat kita lari dari rumah ini!” ajak ibuku dengan nafas terengah-engah.

Ada apa, Bu? Mau minggat? Rein siapin baju dulu yah…” jawabku bercanda.

“Aduh Riri cepat lari!” saking terburu-burunya, Ibu menarik tanganku dan lari menuju ke luar rumah. Entah kenapa, perasaanku benar- benar tidak enak.

“Ibu ada apa sih?” tanyaku lebih tegas.

“Ru… rumah kita…” jawab ibuku terbata-bata.

Ada apa dengan rumah kita, Bu?”

“Rumah kita!”

DAAAAARR!!!

Aku melihat atap rumah ambruk terbakar si jago merah. Mbak Rah dan Pak Tito berlari ke luar pagar untuk menyelamatkan diri dan berteriak-teriak minta tolong pada warga sekitar. Warga sekitar segera datang dan membantu untuk memadamkan api. Dinginnya malam membuat api semakin ganas. Sepertinya ada seseorang yang terlupakan.

“ALDI! Ibu, mana Aldi?” tanya aku. Aldi, adik semata wayangku yang berumur 6 tahun. Ya Allah… Ibu melupakannya!

“Aldi! Ya ampun… tadi Ibu sudah membangunkannya terus Ibu pegang tangannya. Terus… Terus…” ibu menangis, menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “Ya Allah… ibu macam apa hamba ini?”

“Ibu… Ibu gak boleh nangis terus… cepat telepon pemadam kebakaran!” usul aku.

“Gak bisa, nak… Ibu tidak membawa handphone. Handphone Ibu masih di dalam… sekarang sudah…”

Ya ampun… handphone. Aku lupa… handphoneku juga ada di dalam. Handphone, yang biasanya menjadi penyelamat hidupku sekarang sudah hangus… Bagaimana ini? Tanpa kusadari aku meneteskan air mata… Aldi… Aldi…

“Terus gimana, Bu? Ibu jangan terus menerus menangis tanpa melakukan apa-apa! Itu namanya tidak bertanggung jawab! Cepat Ibu…” teriak aku. Emosiku sudah tidak dapat dikendalikan.

“Diam dulu! Ibu juga lagi mikir!” teriak Ibu marah-marah. Aku segera diam.

“Aldi… Aldi baru 6 tahun. Dia gak bisa apa-apa kalau sudah begini…” Air mataku tumpah dan membasahi pipiku. Aku sudah tidak tahan lagi. “Rein akan melakukan apa aja demi Aldi…”

“Kalau begitu cari telepon umum koin, telepon pemadam kebakaran, rumah sakit, dan Ayah…” usul Ibu. Aku terdiam… semua pasti akan kulakukan demi Aldi, tapi kalau berhubungan dengan telepon umum koin…

“Bagaimana kalau sama Pak Tito?” tanyaku.

“Pak Tito sedang membantu warga memadamkan api…” jawab ibu lemah.

“Ta… Tapi…”

“CEPAT! KAMU MAU ALDI SELAMAT GAK?” teriak Ibu. Aku tidak bisa mengelak. Aku segera membalikkan badanku dan segera berlari. Di mana aku harus mencari telepon umum koin? Oya di depan tempat pembuangan sampah. Tapi jaraknya cukup jauh dari rumah. Aku segera berlari… Dan tanpa kusadari lagi, aku meneteskan air mataku lagi. Aku terus berlari… berlari… berlari menempuh jarak 1 km dari rumah. Cukup jauh… karena rumahku cukup terpencil.

Akhirnya sampai di telepon umum koin depan tempat pembuangan sampah. Saat aku mencoba untuk menggunakannya, aku melihat di sekitar telepon umum koin ini banyak berserakan sampah-sampah yang jorok, bau bangkai di mana-mana… Benar-benar tidak terurus. Ditambah lagi aku tidak menggunakan alas kaki. Aku memaksa diriku untuk menggunakannya. Tapi aku tidak kuat dan tidak tahan dengan keadaan seperti ini. Dengan berat hati, aku mengangkat gagang telepon itu dan segera menelepon pemadam kebakaran, rumah sakit dan Ayah. Setelah itu aku segera berlari menempuh jarak 1 km untuk melihat perkembangan. Rumahku tetap terbakar tetapi sudah mulai agak padam. Tiba-tiba datang pemadam kebakaran dan ambulans. Dengan cepat mereka memadamkan api dan menyelamatkan Aldi. Syukurlah Aldi bisa selamat. Dia hanya pingsan karena terlalu sering menghisap asap.

***

Beberapa bulan kemudian… sekarang aku tinggal di sebuah rumah sederhana di dekat rumahku yang sudah menjadi abu. Kehidupanku sudah kembali seperti sediakala dan Aldi pun sudah sehat. Aku sangat berterimakasih pada telepon umum koin yang ada di depan tempat pembuangan sampah. Berkat itu aku dapat menelepon pemadam kebakaran dan rumah sakit sehingga Aldi selamat. Sebagai balas budiku dan Aldi, sekarang aku tidak menggunakan handphone. Sekarang aku menggunakan telepon umum koin untuk menelepon. Setelah itu, aku mengadakan Peduli Telepon Umum Koin di sekolah yang bekerja sama dengan PT. Telkom. Kegiatan itu dilaksanakan dengan cara membersihkan, memperbaiki, dan membiasakan masyarakat menggunakan telepon umum koin. Mudah-mudahan itu cukup membalas hutang budiku pada telepon umum koin…

————————————————————————————————–

Hehehe.. Ini cerita udah pernah aQ publish di ~Miku~’s Story aQ seneenng banget ngebaca ini. Ampe berkali-kali. Ini aQ yang buat, trus aQ ikutin ke Lomba Karya Tulis Telepon Umum Koin yang diselenggarai oleh Telkom. Dan hehehehe.. Alhamdulillah, juara 2… 😛

Virus Word Application 76Kb

Sudah terdeteksi oleh AVG, bingung menamakan, tak kasih nama lena haha.

ada pesan buat lina sih…

Pesan leena (baca lina) I Love you

virus definisi: leena/*/5/*/11732/*/W32/Leena/*/1

Comment from: peteka

iya tu leena bikin word disembuyikan bukan dihapus (disuper hiden)
dan atribut file hidden dan didisabled untuk file yang terinfeksi leena.
cara mengatasi dengan manual.
– matikan system restore
– jalankan processXP
cari file yang dijalankan yang iconnya MS WORD type file application ukuran 76 kb. file tersebut antara lain : salah satu yang berjalan services.exe, ex-plorer.exe kemudian di kill process tree.
– lewat folder options pilih yang untuk menampilkan semua file windows.
– cari file *.exe, *.scr ukuran file 76 kb icon ms word application
– hapus file yang dibuat oleh leena ukuran 76 kb icon ms word
di C:\windows\system32\
– 3D soccer.exe
– controls.exe
dan cari beberapa file aku lupa apa file nya tapi ukuran 76 kb icon ms word hapus saja.
– hapus schedultask nama file leena.

virus menyerang ms word ketika kita sedang mengetik dan menyimpan dan setelah itu leena akan menganti menjadi application dan ukuran 76 kb jika dibuka dengan msword
akan muncul pesan EMPTY HEAD
sedangkan file aslinya word dihidden (superHidden) dan mendisable atribut hidennya.

untuk menampakan file-file yang dihiden pake folder option yang superhidden. setelah itu dibuka dan save as agar atribut disable hiddennya hilang.

virus leena mematikan msconfig,cmd,regedit jika dirun msconfig,cmd,regedit leena akan merestart.

– leena akan membuat folder sendiri di user yang sedang aktif dengan nama folder leena-7-9. berdasarkan tanggal.
– jika flasdisk dimasukan leena akan membuat satu file berdasarkan nama user yang aktif misal Peteka_Readme

aku mecoba dengan manual dan bisa setelah itu aku instal antivirus pake AntiVir.
dan kucoba dengan virus leena Antivir mendeteksi sebelumnya
virusnya aku RAR dulu.

Ditemukan di http://virusindonesia.wordpress.com/2006/08/31/word-apllication-76kb/ [sankyuu banyak…]

Merokoklah Supaya Masuk Surga…

Pak, bapak kan tahu kalau merokok itu tidak baik bagi kesehatan, kenapa bapak masih melakukannya?

Ah, tidak sehat itu kan kata peneliti-peneliti dari barat, negerinya para kafir, kamu tidak boleh begitu saja percaya (lalu membacakan ayat yang menyuruh waspada terhadap tipu daya orang kafir)

Pak, pemerintah kita tidak cukup goblok untuk memaksa pabrik rokok menempeli setiap bungkus produk mereka dengan peringatan bodoh yang belum terbukti kebenarannya. Bapak bisa beri jawaban lain yang lebih pantas?

Hahaha (tertawa bijak) saya hanya bercanda, saya ingin tau setajam apa daya pikir kamu. Ternyata kamu cukup kritis. Bagus itu! Manusia memang harus berpikir kritis! (Lalu membacakan ayat yang memerintah manusia agar menggunakan akal).

Sebenarnya begini, kamu tahu kan posisi saya saat ini? Saya ini sekarang jadi panutan umat, apapun yang saya ucapkan atau lakukan akan selalu diikuti umat secara membabi buta. Kalau saya berhenti merokok, lalu umat ikut berhenti, lalu bagaimana nasib jutaan orang yang bekerja di pabrik rokok? Juga jutaan lain yang secara tidak langsung bergantung pada industri rokok? Bagaimana nasib keluarga mereka? Bagaimana nasib anak-anak mereka? Jangan lupa, banyak dari mereka juga seiman dengan kita, apa itu bukan berarti menganiaya saudara seiman? Dosanya lebih besar lagi kan? (Dengan fasih membaca ayat yang melarang menganiaya orang lain apalagi yang seiman)

Wah, mulia sekali, saya sangat terharu melihat kerelaan Bapak mengorbankan kesehatan demi kesejahteraan orang lain. Baru sekarang saya tau, ternyata berhenti merokok bisa menyebabkan dosa (manggut-manggut sambil garuk-garuk kepala).

Tapi Pak, saya lihat, ketika dirumah Bapak sering merokok di depan anak dan istri, bukankah itu sama saja meracuni tubuh mereka, setiap hari, sepanjang tahun? Kenapa Bapak bisa tega melakukan itu? Lalu dalam angkutan umum bapak juga merokok tanpa mempedulikan orang-orang sekitar yang pasti ikut teracuni oleh asap rokok bapak. Itu kan menganiaya orang lain namanya. Katanya tidak boleh menganiaya. Bagaimana itu?

Nak, demi kebaikan umat, apapun akan saya korbankan dengan tulus dan penuh keikhlasan, termasuk harta benda dan bahkan keluarga saya. Mungkin saya memang berdosa terhadap anak istri saya, mungkin juga berdosa terhadap orang-orang di angkutan umum, tapi coba deh kamu berpikir lebih luas.

Dengan menghisap rokok, saya sudah menolong jutaan manusia yang terlibat di industri rokok agar tetap memiliki pekerjaan, menolong dapur mereka agar bisa tetap berasap, menolong anak mereka agar tetap bisa sekolah. Jadi meski saya sedikit berdosa, tapi pahala yang saya dapat sangat jauh lebih besar!. Anak dan istri saya juga mendapat pahala karena membantu saya untuk berbuat baik. Orang-orang diangkot juga akan dapat pahala karena membiarkan saya melakukan perbuatan mulia, ingat… [membacakan ayat tentang perintah agar saling menasihati dalam kebaikan]. Kamu ngerti sekarang?

Hmmm, sebenarnya saya agak pusing. Jadi kesimpulannya, merokok itu meski tidak baik untuk kesehatan, tapi sebenarnya malah memberi kita banyak pahala ya?

Iya, benar sekali! Apalagi kalau dilakukan dengan penuh kesadaran dan selalu diawali dengan menyebut nama Tuhan. Dengan merokok kita akan mendapatkan banyak pahala. Dan semakin banyak pahala, semakin mudah kita akan masuk surga! Yakinlah, Perhitungan Tuhan itu tidak mungkin salah!!! (Dengan berapi-api membacakan ayat yang menyatakan bahwa perhitungan Tuhan tidak akan salah, dan semua orang akan mendapatkan balasan sesuai perbuatannya)

Ok, ok, ok. Cukup Pak, cukup…! Terimakasih banyak. (Setelah cium tangan langsung pamit buru-buru cari Norit)

Saat menyukai seseorang…

Kalau memang menyukai seseorang, kita akan saling berbagi. Kan senang kalau bergandengan dengan orang yang kita sukai. Asalkan punya perasaan yang sama, kita tak usah cemas memikirkan hal lainnya… (Ogawa Yuuko – Hai, Miiko! 14)

Bener banget..! Karena aQ sudah pernah mengalaminya… Bagaimana denganmu?

Kyuu…

Perutku sakit amat c… *merintih kesakitan*

Gosok Gigi Punya Arti loh…

Gaya kita dalam menggosok gigi punya arti tersendiri. Nyadar gak kalian klo saat menggosok gigi kita cenderung melihat ke arah tertentu. Nah, ke arah manakah matamu saat menggosok gigi? Melihat atas? bawah? bayanganmu di kaca? atau ke kiri dan kanan?

Nih jawabannya..

Melihat ke atas: Kamu termasuk tipe pendiam. Sangat tergantung pada teman dekatmu dan selalu mengharapkan bantuannya saat sedang ada masalah. Sepertinya kamu harus lebih percaya diri dan belajar untuk berani mengungkapkan perasaan dan pendapatmu.

Melihat ke kiri dan kanan: Kamu termasuk orang yang hati-hati. Selalu merencanakan sesuatu sebelum bertindak. Saking hati-hatinya, kadang kamu kehilangan kesempatan emas. Sebaiknya kamu harus lebih berani dalam mengambil keputusan. Sehingga tidak kehilangan kesempatan emas lagi.

Melihat kebawah: Tipe baik hati dan penolong! Kamu adalah teman yang baik dan selalu ingin menghibur orang lain. kamu selalu mendengarkan keluhan teman-temanmu dan menuruti kemauan mereka. Terkadang kamu terlalu mengalah karena tidak ingin merusak hubungan baik dengan teman-temanmu. 

Melihat bayanganmu di kaca:  Orang yang tegas dan praktis. kamu berani bertindak dan berani pula bertanggung jawab. kamu punya bakat untuk melakukan hal-hal yang hebat dalam hidupmu dan meraih impianmu. Tapi kamu harus belajar banyak untuk menghargai teman-temanmu.

Jawaban ini bisas saja tepat, bisa juga tidak. kamu boleh percaya, atau tidak…

Dari suatu majalah April 2003(Buset 3 tahun yang lalu…)

Kehilangan suatu barang…

Saat kita kehilangan benda yang kita sayangi, benda itu membawa semua kesialan pemiliknya… (Papa Miiko – Hai, Miiko! 16)

Hehehe… Bagi yang sedang kehilangan barang(bukan seseorang) mudah2an terhibur membaca ini… 😀 Tapi aQ juga gak tau ni mitos atau fakta…

Cacar air menyeraanggg…

Cacar air…

aQ baru kena sekarang loh! kelas 3SMP! *geleng-geleng kepala* Sebenarnya udah bentol-bentol tuh udah lama. Tapi pas kemaren lusa, aQ liat tampak makin banyak. Dan besoknya lagi makin banyak(terutama di punggung) Dan kemaren, kepalaku mulai pusing. Maka aQ laporkan pada ibuku dan segera menuju ‘DDR'(Dokter Dekat Rumah) -_-” Lalu dokter berkata aQ terserang CACAR AIR. Wah.. Bangga… Akhirnya! Trus aQ mah nyantai aja sakit cacar air. Gak kayak orang sakit yang tidur di tempat tidur terus menerus dari pagi hingga malam. Yaah.. Yang paling gak enak klo lagi sakit itu minum oabat!!! Apalagi obatnya itu tablet gede 3 buah, yang satu warna pink, gede, lebar pula… Trus adalagi kapsul biasa gtu warna pink juga!(Menyesal, knapa gak biru?) Satu lagi obat yang harus habis dan harus diminum 5 jam sekali. Alhamdulillah berwarna putih…

Karena aQ harus minum obat, jadi… aQ gak puasaaa nyuuuu… [/omg] wawawawawawawa! sedih… Bagainmana ini Qada-nya segunuuunnnggg….!!!

Oya, sampai ketikan ini, aQ masih sakit. Alias blom sehat. Tapi blom terlalu parah tampaknya… Mohon doanya ya… Terima kasih banyak nyuu… n_n