Telepon Umum Koin Berjasa

 

Hari Senin yang gelap. Cahaya Matahari nan terik itu terutup oleh awan hitam yang besar. Kelihatannya akan hujan sangat lebat. Aku duduk terdiam menatap ke luar melalui jendela kelas. Aku duduk tepat di samping jendela. Biasanya aku menatap ke luar jendela dengan perasaan senang. Matahari yang terik menyinari tanaman hijau di depan kelasku, angin sepoi-sepoi mengajak pohon-pohon rindang dan bunga-bunga yang bermekaran untuk menari bersama. Benar-benar indah. Tetapi hari ini… nihil… seharian ini Sang Surya tidak mengeluarkan cahaya indah nan hangat itu. Hanya tertutup oleh awan gelap. Walaupun demikian, hujan tak kunjung turun. Gelap… gelap… dan gelap. Hhhh… bosan…

Jam 2 siang, seharusnya bel SMP Harapan Bangsa sudah berbunyi. Tetapi tidak kunjung bunyi.

Tet… tet… tet…

Bel 3 kali… Akhirnya pulang juga setelah 8 jam di sekolah. Kukira perasaanku akan membaik tapi ternyata… perasaanku kian memburuk. Rintik-rintik hujan yang deras sudah turun di hadapanku. Terpaksa aku meminta jemput Pak Tito, supirku. Aku segera mengeluarkan handphone Nokia 3230ku dan segera menelepon pria separuh baya itu. Dalam waktu 20 menit, mobil yang kunanti sejak lama datang menjemputku. Seorang pria berkemeja putih dan bercelana hitam datang menghampiriku dengan membawa payung sambil menawarkan bantuan.

“Nona Rein, maaf membuat Anda menunggu. Mari saya bawakan tas Anda…” tawar Pak Tito dengan sopan.

“Tidak usah, Pak. Biar saya bawa sendiri. Tas ini cukup berat…” tolak aku. Aku agak ragu kalau pria setengah baya ini menawarkan bantuan. Aku merasa sudah merepotkan dia… dengan diiringi Pak Tito yang membawa payung, aku segera berjalan menuju mobil Avanza berwarna silver yang sudah menantiku di seberang Jalan Cendana yang lebar ini. Dengan cepat, Pak Tito membawaku pulang menerobos hujan yang deras ini.

***

Dalam perjalanan menuju rumah dan hujan pun sudah reda, aku melihat sebuah telepon umum koin yang tidak terurus. Dalam hati aku berkata,

“Hari gini masih ada telepon umum koin. Cih… udah gak zaman. Sekarang kan udah ada handphone. Buat apa ada telepon umu koin. Gak ada guna. Cuma dipakai sama orang kampung saja. Udah gitu tempatnya kotor, jorok, ih jijik… Seumur hidup aku gak mau pakai telepon umum koin!” Itulah yang aku katakan mengenai telepon umum koin yang ada di tempat pembuangan sampah, sampai kejadian itu terjadi.

***

Jalan Permata Biru No. 4. Rumahku yang cukup mewah dan besar. Bertingkat dua, lebar, memiliki halaman yang luas, ada kolam renang, dan garasi yang luas. Mungkin ini lebih dari cukup mewah. Saat aku masuk, seorang wanita yang tinggi menghampiriku. Dia menyambutku dengan senyum. Senyuman hangatnya itu hampir setiap hari aku dapatkan darinya. Siapa lagi kalau bukan ibuku.

“Eh… Udah pulang Riri sayang…” sahut ibuku. Beliau memanggilku dengan nama panggilanku saat kecil.

“Ibu… Jangan panggil Rein kayak gitu… Itu kan dulu…” sahutku akrab. Memang aku dan ibuku sangatlah akrab. Seperti layaknya berteman.

“Gak apa-apa dong… Ibu kan suka panggil Rein kayak gitu. Oya, hari ini Ayah pulang malam. Ada rapat penting.”

“Lho… bukannya itu sudah menjadi kebiasaan Ayah. Pulang malam dengan alasan rapat penting…” Memang… kebiasaan ayahku setiap hari. Ayahku adalah seorang manajer suatu perusahaan terkenal di Bandung. Tidak aneh kalau setiap hari ada rapat.

“Iya… iya… jangan judes kayak gitu donk…”

“Rein gak judes kok, Bu… Udah ya Rein mau ganti baju dulu…”

“Iya, habis itu turun lagi yah… Ibu udah siapin makanan kesukaanmu…”

“Pasti… demi ayam kecap!” Ya… ayam kecap adalah makanan kesukaanku sejak kecil. Nyam… Ayam yang digoreng sampai kering, disiram dengan saus kecap. Kecapnya meresap sampai ke daging. Nyam… Aku segera berlari ke kamarku di lantai dua, segera ganti baju dan sebelum ke bawah, aku melihat layar handphone Nokiaku. Mungkin saja ada missed call atau sms dari dia. Ternyata nihil… sama sekali tidak ada missed call atau sms yang datang. Dengan perasaan kesal dan sedikit perasaan senang, aku berlari ke bawah dan segera duduk di depan meja yang sudah tersedia nasi, tempe goreng, sayur asem, dan ayam kecap. Yam… aku segera memulai makan siangku dan tanpa kusadari aku makan hingga habis dua piring.

***

Dengan perut kenyang, aku segera kembali ke kamarku untuk mengerjakan tugas. Tanpa kusadari hari sudah larut. Aku bergegas untuk mandi. Setelah itu aku akan segera shalat Ashar dan mengerjakan tugas matematika. Setelah itu makan malam dan mengerjakan tugas sejarah, niatku dalam hati. Mungkin hari ini aku akan begadang lagi. Kenapa tidak? Untuk mengerjakan tugas sejarah, aku membutuhkan waktu 2-3 jm. Ditambah dengan jumlah soalnya yang mencapai 50 soal! Gila… maklum, itulah tugasku sebagai pelajar kelas 2 SMP.

***

Jam 8 malam… Ya ampun!!! Aku ketiduran di atas meja! Syukur tugas matematikaku sudah selesai. Aku segera ke bawah untuk makan malam. Di meja malam terlihat sosok wanita tua yang masih sehat dan segar bugar mau membereskan meja makan.

“Ya ampun… Mbok rah! Rein blom makan!” teriak aku.

“Eh Non Riri… Maaf Non… Mbok kira Non udah makan… Pantes aja Mbok liat Ibu makan sendirian. Kirain Non makannya di kamar…” jawab Mbak Rah.

“Maaf… maaf… Tadi Rein ketiduran… cape…”

“Ya udah… Mbok tinggal dulu ya…” Mbok Rah segera berbalik dan meninggalkan aku sendirian di meja makan. Sendirian… Hiii… Takut ah… Maka aku segera embawa piring yang berisi nasi, gepuk, sayur asem, dan ayam kecap ke kamar dan segera memulai acara makan malam sendirian.

***

Makan malam, selesai… Shalat Isya, selesai… Tugas matematika, selesai… Tugas sejarah, belum… Tinggal tugas sejarah yang belum aku kerjakan. AYO BERJUANG!!! teriak aku dalam hati. Dengan semangat membara, aku segera mengerjakan tugas sejarah. Saat aku membuka buku cetak sejarahku, terdengar samar-samar suara ringtone polyphonic yang sebenarnya sudah tidak asing lagi. Maklum samar-samar karena handphone tersebut aku letakkan di bawah bantal yang sudah menjadi kebiasaanku. Saat aku melihat layar handphoneku, aku langsung tersenyum. Dan tanpa ragu-ragu dan lama-lama lagi aku segera menerima telepon itu karena yang menelepon itu adalah…

“Reza!” teriak aku.

Honey… kok teriak-teriak begini…” jawab seseorang di seberang.

“Gak pa-pa kan?”

“Gak pa-pa sih… Tapi…”

Pembicaraan terus berlanjut dan tanpa kusadari jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Karena lelah, aku segera tidur. Kalau soal sejarah, tinggal nyontek ke teman aja di sekolah, niatku dalam hati. Lagipula, sejarah jam pelajaran terakhir. Dengan tenang, aku segera terbawa ke alam mimpi.

***

DUK DUK DUK!

“Riri… Riri… Riri, cepat bangun nak!”

Hem… Ribut amat… Lho kok malam-malam panas ya? Dilihatku jam dindingku. Jam 2 malam… Aku segera bangun dari tempat tidurku dan kubuka pintu kamarku. Aduhai… panas! Klihat seorang wanita tinggi bernafas terengah-engah dan terbatuk-batuk. Dan wajahnya penuh noda hitam… kenapa? Kulihat seperti terburu-buru.

“Ayo nak! Cepat kita lari dari rumah ini!” ajak ibuku dengan nafas terengah-engah.

Ada apa, Bu? Mau minggat? Rein siapin baju dulu yah…” jawabku bercanda.

“Aduh Riri cepat lari!” saking terburu-burunya, Ibu menarik tanganku dan lari menuju ke luar rumah. Entah kenapa, perasaanku benar- benar tidak enak.

“Ibu ada apa sih?” tanyaku lebih tegas.

“Ru… rumah kita…” jawab ibuku terbata-bata.

Ada apa dengan rumah kita, Bu?”

“Rumah kita!”

DAAAAARR!!!

Aku melihat atap rumah ambruk terbakar si jago merah. Mbak Rah dan Pak Tito berlari ke luar pagar untuk menyelamatkan diri dan berteriak-teriak minta tolong pada warga sekitar. Warga sekitar segera datang dan membantu untuk memadamkan api. Dinginnya malam membuat api semakin ganas. Sepertinya ada seseorang yang terlupakan.

“ALDI! Ibu, mana Aldi?” tanya aku. Aldi, adik semata wayangku yang berumur 6 tahun. Ya Allah… Ibu melupakannya!

“Aldi! Ya ampun… tadi Ibu sudah membangunkannya terus Ibu pegang tangannya. Terus… Terus…” ibu menangis, menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “Ya Allah… ibu macam apa hamba ini?”

“Ibu… Ibu gak boleh nangis terus… cepat telepon pemadam kebakaran!” usul aku.

“Gak bisa, nak… Ibu tidak membawa handphone. Handphone Ibu masih di dalam… sekarang sudah…”

Ya ampun… handphone. Aku lupa… handphoneku juga ada di dalam. Handphone, yang biasanya menjadi penyelamat hidupku sekarang sudah hangus… Bagaimana ini? Tanpa kusadari aku meneteskan air mata… Aldi… Aldi…

“Terus gimana, Bu? Ibu jangan terus menerus menangis tanpa melakukan apa-apa! Itu namanya tidak bertanggung jawab! Cepat Ibu…” teriak aku. Emosiku sudah tidak dapat dikendalikan.

“Diam dulu! Ibu juga lagi mikir!” teriak Ibu marah-marah. Aku segera diam.

“Aldi… Aldi baru 6 tahun. Dia gak bisa apa-apa kalau sudah begini…” Air mataku tumpah dan membasahi pipiku. Aku sudah tidak tahan lagi. “Rein akan melakukan apa aja demi Aldi…”

“Kalau begitu cari telepon umum koin, telepon pemadam kebakaran, rumah sakit, dan Ayah…” usul Ibu. Aku terdiam… semua pasti akan kulakukan demi Aldi, tapi kalau berhubungan dengan telepon umum koin…

“Bagaimana kalau sama Pak Tito?” tanyaku.

“Pak Tito sedang membantu warga memadamkan api…” jawab ibu lemah.

“Ta… Tapi…”

“CEPAT! KAMU MAU ALDI SELAMAT GAK?” teriak Ibu. Aku tidak bisa mengelak. Aku segera membalikkan badanku dan segera berlari. Di mana aku harus mencari telepon umum koin? Oya di depan tempat pembuangan sampah. Tapi jaraknya cukup jauh dari rumah. Aku segera berlari… Dan tanpa kusadari lagi, aku meneteskan air mataku lagi. Aku terus berlari… berlari… berlari menempuh jarak 1 km dari rumah. Cukup jauh… karena rumahku cukup terpencil.

Akhirnya sampai di telepon umum koin depan tempat pembuangan sampah. Saat aku mencoba untuk menggunakannya, aku melihat di sekitar telepon umum koin ini banyak berserakan sampah-sampah yang jorok, bau bangkai di mana-mana… Benar-benar tidak terurus. Ditambah lagi aku tidak menggunakan alas kaki. Aku memaksa diriku untuk menggunakannya. Tapi aku tidak kuat dan tidak tahan dengan keadaan seperti ini. Dengan berat hati, aku mengangkat gagang telepon itu dan segera menelepon pemadam kebakaran, rumah sakit dan Ayah. Setelah itu aku segera berlari menempuh jarak 1 km untuk melihat perkembangan. Rumahku tetap terbakar tetapi sudah mulai agak padam. Tiba-tiba datang pemadam kebakaran dan ambulans. Dengan cepat mereka memadamkan api dan menyelamatkan Aldi. Syukurlah Aldi bisa selamat. Dia hanya pingsan karena terlalu sering menghisap asap.

***

Beberapa bulan kemudian… sekarang aku tinggal di sebuah rumah sederhana di dekat rumahku yang sudah menjadi abu. Kehidupanku sudah kembali seperti sediakala dan Aldi pun sudah sehat. Aku sangat berterimakasih pada telepon umum koin yang ada di depan tempat pembuangan sampah. Berkat itu aku dapat menelepon pemadam kebakaran dan rumah sakit sehingga Aldi selamat. Sebagai balas budiku dan Aldi, sekarang aku tidak menggunakan handphone. Sekarang aku menggunakan telepon umum koin untuk menelepon. Setelah itu, aku mengadakan Peduli Telepon Umum Koin di sekolah yang bekerja sama dengan PT. Telkom. Kegiatan itu dilaksanakan dengan cara membersihkan, memperbaiki, dan membiasakan masyarakat menggunakan telepon umum koin. Mudah-mudahan itu cukup membalas hutang budiku pada telepon umum koin…

————————————————————————————————–

Hehehe.. Ini cerita udah pernah aQ publish di ~Miku~’s Story aQ seneenng banget ngebaca ini. Ampe berkali-kali. Ini aQ yang buat, trus aQ ikutin ke Lomba Karya Tulis Telepon Umum Koin yang diselenggarai oleh Telkom. Dan hehehehe.. Alhamdulillah, juara 2…😛

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: