Archive for the ‘Aku menangis~’ Category

Caraku memaafkan seseorang

“Dia nyebelin! Padahal aku udah ngerelain waktu banyak buat dia, aku bantu dia pas lagi kesusahan, aku temanin dia pas lagi kesepian! Banyak banget yang udah aku lakuin buat dia! Tapi, sedikit pun ia tak membalas! Hanya diam yang kudapat! Ditambah lagi sekarang dia malah pergi! Apa sih yang dia mau!?!? Ugghh!!!”

Tentu saja seseorang yang mengucapkan ini di belakang tokohnya. Kemudian tokoh yang dimaksud ini datang. Amarah menurun walaupun sedikit. Tiba-tiba dari mulut dia, keluarlah sebuah pertanyaan…

“Kamu marah sama aku? Kenapa?”

Seseorang itu hanya bisa diam. Berpikir keras, tapi tidak menemui jawaban. Walaupun ada jawaban, jawaban itu rasanya kurang tepat. Seseorang itu tahu jawabannya, tapi pada saat itu ia sedang tidak memikirkannya. Bukan, tapi ia melupakan dan menganggap semua perkataan yang ia ucapkan tadi hanya sebuah angin. Penting tapi tidak dianggap penting.

Itu hanyalah contoh cerita dan itulah yang terjadi padaku…
Baru saja aku marah-marah, menemukan semua kekurangannya, lalu diucapkan dengan nada tinggi. Tapi saat ditanya, “Kamu marah kenapa? Apa salah aku?” atau “Apa saja kekuranganku?”, aku hanya bisa diam. Kebingungan menyelimutiku. Aku tak bisa mengatakan apa-apa. Sekalipun aku menemukan jawaban, rasanya jawabannya itu kurang pas! Kejadian ini tidak hanya terjadi satu kali, tapi beberapa kali. Bertanya-tanya di dalam hati, “Aku ini kenapa? Ko bisa blank begitu?” Gak konsis? Iya, aku gak konsisten. Sangat tidak konsisten!

Terlintas jawaban dari pertanyaan itu. Aku belum mengatakan itu adalah jawaban mutlak dari pertanyaan itu, tapi setidaknya aku menemukan titik terang. Aku bisa menemukan semua kekurangannya itu pada saat aku sedang naik darah. Keegoisan menyelimutiku. Karena keinginanku tak terpenuhi, tingkat keegoisanku naik seketika menjadi Level 10 (gunakan konsep RO) Semua yang jelek mengenainya kuucapkan dengan jelas sampai detail sampai terdetail-detailnya. Lalu, satu kalimat tadi dengan cepat mampu menurunkan level keegoisanku seketika. Speechless.

Dapat disimpulkan. Bagiku, buatku, untukku, for me, just for me (karena ini hanyalah sebuah pendapat, maka belum terbukti kebenarannya pada orang lain), menyebutkan beberapa kejelekan seseorang hanya bisa dikatakan dengan dihayati pada saat keegoisan atau amarah seseorang sedang memuncak. Lalu hilangnya amarah itu secara seketika (mungkin) diakibatkan adanya sebuah perasaan… Entahlah, apa nama perasaan itu. Tapi perasaan itu adalah sebuah perasaan yang membuat hati mengucapkan kalimat, “Tidak apa-apa..”, “Kamu aku maafin..”, atau “Nyantai aja…” Saat keegoisan turun, perasaan itu akan meninggi. Ya.. Dapat dikatakan rumusnya adalah: Egois turun = Perasaan itu naik

Sependapat gak?

Atau jangan-jangan akunya aja yang telat! Padahal udah banyak orang yang tahu! Oh, tidak…

Advertisements

Rainbow – ROUND TABLE feat. Nino – ED ARIA The Animation

Tenohira no ue ni sotto noseta
yasashi sa wo atatamete sotto
kuchizusanda himitsu no MELODY –
utatteyo ikuatemo naikedo

demo uridashita amemo
ki ni shinai zutto soba ni iru kara

ikutsumono niji
koe te ikeruyo
futari de OVER THE RAINBOW
chiisana hikari hoshi ni negai wo
kanaeteyo kitto aoitori

mizube ni utsuru itsumono keshiki
odayakani nakareru jikan to
utsuriyuku kisetsu no naka de
mitsuketano kawaranu omoi wo

kiite shiawase no uta wa
sou itsudemo kokoro no naka afurete

egaiteta yume kanaerareru yo
itsukawa OVER THE RAINBOW
ame agari no miji miageta sora ni
habataite itsuka aoi tori

ikutsumono miji koete ikeruyo
futari de OVER THE RAINBOW
chiisana hikari hoshi ni negai wo
kanaeteyo kitto …

egaiteta yume kanaerareru yo
itsukawa OVER THE RAINBOW
ame agari no miji miageta sora ni
habataite itsuka aoi tori

ume ippai no ai wo
atsumeteyo kitto rainbow
kokoro ni wa itsumo ai wo
koeteku wa kitto rainbow

—————————————————————-

Lagunya membuat aQ nge-rewind  semua kenangan yang aQ punya. Jadi pengen nangis ngedengerinnya… 😦

Berbicara pada diriku yang sebenarnya[private]

Suatu hari, aQ memejamkan mata. Mencoba menemui diriku di ‘dunia lain’. Diriku di dalam hatiku.. Diriku yang sebenarnya… Setelah beberapa lama aQ menyelusuri diriku, akhirnya aQ menemuinya. Kemudian, aQ mencoba untuk berbicara dengannya..
Kenapa kamu ******** dia?
Hah?
Iya.. Kenapa?
Karena aQ ingin…
Bohong!! Sebenernya kamu gak ingin seperti itu kan??
Iya, bener.. aQ emang pengen..
Gak! Gak mungkin!!!
Beneran..
Benarkah yang kamu ucapkan itu, yang kamu jawab itu dari hatimu?
Itu…
Itu bukan dirimu yang sebenarnya kan? Kamu bohong kan??? Kamu hanya menutup-nutupi saja kan??? Sebenarnya kamu gak ingin kayak gini kan??
……
Anggi!!
A.. Aku… Sebenarnya aQ gak mau kayak gini…
Bener kan?
Tapi aQ harus melakukannya! Kalau tidak, nanti aQ…
Jadi, kenapa kamu melakukannya?
Karena itu harus. Itu yang harus kulakukan…
Tapi, kamu tidak mesti melakukan itu? pasti ada cara lain.. Pasti ada cara keluar lain dari masalah ini selain melakukan itu kan?
Enggak.. Setelah kupikir ulang lagi, ******** dia sudah merupakan penyelesaian dari semua masalah. Itu sudah mencakupi semuanya…
Apa kamu kuat untuk melakukannya?
Sebenarnya, tidak.. Tapi aQ harus.. Harus melakukannya… Yang kulakukan ini pasti membuahkan hasil.. Iya, pasti…
….. Baiklah kalo gitu.. Kalo memang itu yang memang harus kamu lakukan. aQ tidak bisa memaksamu untuk melakukan cara lain… Tapi dengan kamu melakukan ini, pasti bisa ********* yang lain yang pasti lebih baik… Tetap kuat dan tabah ya…
Iya, makasih banyak ya…
Sama-sama… 🙂

Manusia tak punya perasaan…

Pernah membayangkan seseorang yang seharusnya mempunyai perasaan(karena dia manusia, pasti punya perasaan dong!) malah tidak digunakan??? Tidak bersifat sementara, tapi bersifat permanen! Malah dia setiap hari tuh gak punya perasaan banget! Gak mao peduli ama orang lain! Gak mao ngertiin orang lain! Hanya mentingin diri sendiri! Ada orang lagi nangis, eh bukannya ngehibur malah ngedumel sendiri. “Ngapain sih nangis-nangis segala??”

Kesel gak kalo punya teman yang kayak gitu?

aQ pernah berteman dengan teman yang kayak gitu. aQ lagi sakit, dia gak peduli. aQ nangis, gak dihibur! aQ mao pinjem barang, dia gak mao bawain gara2 bikin tasnya berat!! aQ udah ngasih suatu barang, gak bilang makasih! Gak tau malu banget!!! aQ udah bela2in nemenin dia, eh malah giliran dia nungguin malah pergi duluan! aQ udah banyak ngelakuin yang membuatnya bahagia, tapi dia malah membuat aQ sakit hati! Gak tau malu… Air susu dibalas dengan air tuba..

Tapi, ada kemungkinan lain juga… Bisa saja dia sebenarnya mempunyai perasaan, tapi dianya saja yang kurang bisa terbuka, kurang bisa membuka potensi yang ada di dalam dirinya, tidak tahu bagaimana cara menunjukkan perasaannya itu..Tapi inginnya, dia tuh nyadar kalo dia punya sifat itu trus kasih tau ke aQ, mgkn aQ bisa ngerti.. Ato seharusnya aQ yang lebih ngerti ya? Tapi kalo misalkan aQ berusaha bwat ngertiin dia, eh ternyata salah pengertian gimana?

Jadi serba salah…

Udah janji, trus batal, pasti sakit..

Kalian punya janji, trus janji itu udah ditunggu-tunggu, karena bisa saja di hari lain ga akan bisa lagi, kamu udah nunggu beberapa jam. Pas udah ketemu dengan orangnya, ternyata dibatalin…

Sakit gak?

Sedih gak?

Ini adalah pengalaman yang kualami kemaren..

Gimana gak sakit?? Gimana gak sedih?? Gimana gak kesel???

Apa seharusnya aQ bisa lebih pengertian lagi ama orangnya itu?

Apa yang seharusnya kuperbuat??

Hhh.. Menyebalkan…

Back to ‘Percayalah’…

Seandainya dapat ku melukiskan

isi hatiku untukmu
Seandainya kaupun harus tahu
lelah hatiku bila kau jauh

reff:
Namun kupendam rasa
Ku hanya ingin kau bahagia
Jalani yang kau pilih
Jangan risaukan aku

Percayalah kasih
cinta tak harus memiliki
Walau kau dengannya
namun ku yakin
hatimu untukku

Percayalah kasih
cinta tak harus memiliki
Walau kau coba lupakan aku
tapi ku kan s’lalu
ada untukmu

Seharusnya kaupun menyadari
resah hatiku bila kau dengannya
Seharusnya akupun tak berharap
miliki dirimu seutuhnya
Namun kupendam rasa
Ku hanya ingin kau bahagia

Ini adalah lagu terjadul yang ku post ulang. Akhirnya aQ bisa ngerti maksut lagu itu. aQ ngerti banget! Mungkin karena aQ pernah mengalami atau… Emang lagi ngalamin ya?

Sebuah perumpamaan dari perasaanku…

Matahari bersinar cerah…
Dengan senyuman yang menghiasi wajahku, aQ berjalan di sebuah jalanan yang lurus, panjang dan tidak kuketahui ujungnya..
Di pinggir jalan itu terdapat rerumputan hijau, dengan berbagai macam bunga yang harum semerbak…Saking bahagianya, aQ memutuskan untuk menempuh perjalanan ini dengan berlari. Setelah itu, aQ berjalan sambil lompat-lompatan..
Yang penting aQ senang dan bahagia selama perjalanan itu..

Lalu, aQ bertemu dengan jalan yang terbagi menjadi dua dengan panah di tengah yang menunjukkan kalo aQ belok kiri menuju jalan ‘Berharap’ dan yang satunya lagi menuju jalan ‘Putus Harapan’.
Tanpa memikirkannya lama lagi, dengan semangat tinggi aQ segera berlari ke arah kiri..
Lalu aQ terus berjalan di jalan itu..
Matahari masih saja menyinariku. Dan di sekelilingku masih saja ada rerumputan hijau dan bunga yang harum semerbak..
Senyumanku pun belum memudar…
3 kali aQ bertemu dengan jalan yang terbagi dua itu, 3 kali aQ bertemu dengan dua panah itu, dan 3 kali aQ memilih jalan ‘Berharap’ dengan pasti…

Saat di tengah perjalanan, Sang Surya telah ditutupi oleh awan hitam. Awan hitam mulai mengeluarkan petir dan gunturnya. Dan turunlah hujan..
Hujan itu sangatlah deras dan sangat menyakitkan. Menusuk-nusuk tubuhku yang berlarian mencari tempat teduh. Serasa dihujani berjuta-juta jarum..
Tapi, aQ masih saja belum menemukan tempat untuk berteduh..
Kemudian, beberapa saat aku berhenti. Terdiam di bawah derasnya hujan yang membasahi badanku. Kupandang langit yang hitam. Tetesan air mataku tercampur dengan rintikan air hujan yang membasahi wajahku. Air mataku terus menerus mengalir dan terlintaslah ini di kepalaku..
“Apakah aQ dapat bersama Sang Surya itu lagi? Bisakah aQ bersamanya lagi? Bisakah aQ bersamanya selamanya? Bisakah aQ?”
Dengan cepat, aQ berlari menghindari derasnya hujan..
Tapi, cepatnya larianku tidak dapat menghapus air mataku…
Dengan nafas terengah-engah, aQ terhenti di depan panah itu lagi. Jalan mana yang kupilih sekarang? Jalan ‘Berharap’? Atau jalan ‘Putus Harapan’?
Biasanya aQ memilih jalan ‘Berharap’. Kenapa sekarang aQ jadi ragu-ragu untuk memilih jalan? Kenapa?
Berharap atau Putus Harapan??? Yang mana yang harus kupilih???
aQ benar-benar bingung saat itu..
Beberapa menit kuberdiri di depan panah, dan akhirnya aQ menentukan pilihan untuk menuju arah kanan, jalan ‘Putus Harapan’..
Diiringi suara isakan tangisku yang keras, aQ terus berlari, berlari, berlari, berlari dengan sangaat cepat…

Dan sampai sekarang pun, aQ masih tetap menangis dan berlari di jalan ‘Putus Harapan’ itu…

Keluargaku bermasalah.. :(

Sekarang keluargaku bener-bener lagi ada masalah.. 😦
Hampir bisa dibilang sudah di ujung tanduk…
kata perceraian bisa dibilang sudah hampir ada di depan mata…

tadi malam jam 8 lebih, ibuku pergi dari rumah..
bilangnya mau ngejemput adikku yang sekarang ada di Jakarta..
aQ berniat ingin menemani ibuku, karena ibuku belum ada keberanian ke Jakarta, naik mobil lewat Cipularang sendirian.
ibu menolak..
setiap pertanyaan dan setiap ucapan yang aQ lontarkan, semuanya dibalas dengan wajah murung dari ibu..
aQ yakin, ibuku pasti ada masalah..
karena setiap ibuku sedang ada masalah, ibuku pasti mengambil kunci mobil dan pergi membawa mobilnya ntah pergi kemana.
menenangkan diri…
tapi biasanya ibuku pergi ke rumah temannya..
aQ segera menelepon hp ibuku, tidak diangkat..
menelepon hp teman ibuku, tidak diangkat juga..
apa ibu serius akan pergi ke jakarta sendirian dengan keadaan dan pikiran seperti itu?
aQ khawatir, dan aQ mulai berdo’a…

“Ya Allah, berikanlah ibuku keselamatan dan perlindungan selama di perjalanan. Dan berikan ibu ketenangan dan jalan keluar pada masalah yang sedang dialaminya. Amin..”

pagi, jam 8…
ibu masih belum ada di rumah..
nenekku yang ada di Jakarta menelepon dan mengatakan kalau ibuku tidak ke jakarta…
mendengar itu aQ sangat terkejut, takut kalau terjadi sesuatu dengan ibuku..
nenekku mengatakan klo ibu sedang ada masalah dengan bapak..
sambil meneteskan air mata, nenekku menyuruhku untuk banyak berdoa agar ibu dan bapakku tetap rukun..
lalu, aQ segera menelepon ibuku, masih saja tidak diangkat…
aQ bertanya pada bapakku, bapakku mengatakan semuanya pasti baik-baik saja..
bapakku sama sekali tidak mengkhawatirkan keadaan ibuku!
aQ bener-bener tidak menyangka bapak sampai kayak gitu..
bapak tidak melakukan sesuatu yang menunjukkan tanda kekhawatiran..
telepon rumah berdering, ibu menelepon…
air mataku jatuh dengan derasnya, bersyukur kalau ibu tidak apa-apa..
sekarang, ibu di rumah temannya…
dan tidak memberitahu kapan akan pulang…
dan aQ yakin, pasti, ibu tidak akan pulang sampai bapak pergi ke jakarta untuk kerja…

hhh… aQ benar-benar sedih melihat keadaan keluargaku seperti itu..
aQ akan berusaha semampuku membantu menyelesaikan masalah keluargaku .
tapi aQ tidak tahu masalah apa itu…
ibu tidak mau menceritakan masalahnya dengan bapak.. wajar.. tidak mau membuat anaknya khawatir..
tapi klo kyak gini juga, aQ khawatir!
sebenarnya tanda-tanda kalau orang tuaku tidak rukun itu sudah ada sejak lama..
pisah ranjang, tidak ada komunikasi, hampir tidak pernah kumpul apalagi jalan-jalan sekeluarga..
sudah sangat terlihat kan?

Ibu pernah mengatakan sebuah kalimat yang tidak akan pernah aQ lupakan..

“Anggi adalah air, Ibu adalah kayu, dan bapak adalah api. Kalau Ibu dan bapak sedang berapi, hanya Anggi-lah yang bisa memadamkannya…”

Mendengar itu, aQ benar-benar serasa diberi tanggung jawab untuk menjaga hubungan ibu dan bapak..
karena itu, aQ tidak mau terjadi konflik di keluargaku…
apabila terjadi, aQ ingin sekali untuk bisa membantu atau melakukan apa saja agar keluargaku bisa rukun lagi seperti dulu..

😦

Syukurlah, tapi..

(turn ON: Sadness and Sorrow – Naruto Instrumental)

Pada awal cerita, aQ memang sangat merasa kehilangan sekali. Lalu, aQ curhat pada temen2ku, curhat ama diri sendiri alias merenung. Lebih baik apa yang harus kulakukan, membiarkannya pergi atau melarangnya untuk pergi. aQ bingung..

Dalam hati, aQ ingin membiarkannya pergi, yang penting dia bahagia. Tapi dalam hatiku itu juga mengatakan klo aQ sangat tidak ingin kehilangannya, tidak ingin dia jauh dariku. Klo aQ melarangnya untuk pergi, aQ egois. Sangat egois.. aQ menutup mataku, menguatkan hatiku, menegarkan hatiku, sabar, dan optimis. Rencana Allah selalu indah.. Pasti ada surprise yang akan datang untukku, yang lebih baik daripada ini…

Tapi jika perasaan egois itu aQ pendam, gak enak, sesak, rasanya ingin cerita padanya. Ingin menceritakan perasaanku yang sebenernya. Ingin rasanya kutumpahkan semuanya padanya. Lalu kuputuskan untuk menumpahkan semua perasaanku ini padanya, dan tetap merelakannya pergi. Setelah mengungkapkan perasaan itu, rasanya senang sekali. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, itu pasti akan mempengaruhi dia. Dia pasti akan keberatan meninggalkan aQ.. aQ bodoh. Egois sekali… Kemudian, aQ benar-benar ‘hampir’ ditinggal pergi olehnya. Kukuatkan hatiku, menahan sakit, dan pasrah dengan segala yang terjadi…

Lalu, waktu terus berjalan, aQ mulai membiasakan keadaan tersebut, dan…

Alhamdulillah..
Allahu Akbar..
Subhanallah..

aQ tidak kehilangannya…

Tapi, ada satu yang aQ bingungkan setelah membaca komen dari Biela..

kebahagiaan yang nyata itu bagaimana kita ngeliat orang yg kita sayang itu bahagia, wlaupun kitanya sendiri ga bahagia dengan keadaan seperti itu..

senyum yang nyata itu adalah senyum disaat orang yang kita sayang bisa tersenyum bahagia walaupun sebenarnya di hati kita sangat perih menerimanya..

biarin dia pergi bila hal itu yang membuatnya bahagia.
biarin dia pergi bila hal itu yang membuatnya tersenyum..
karena sesungguhnya bahagianya dan senyumnya adalah bahagianya dan senyumnya cinta..

cinta itu ga harus memiliki, tetapi gimana membuatnya bahagia walaupun dihati kita terasa sakit.

Itu.. Bener2 bikin ngejleebbb aQ… aQ merasa bersalah padanya, karena aQ telah mengatakan jujur. aQ egois. aQ hanya memikirkan aQ sendiri. aQ tidak memikirkan kebahagiaannya. aQ bodoh… aQ pun memikirkan, apa inikah yang diinginkannya? Apakah dia bahagia kalau sperti ini? aQ bener-bener merasa bersalah…

Maafkan ade, kak…

Bagaimana rasanya…

Kalau kau kehilangan orang yang sangat kau sayangi, apa yang akan kau lakukan pada orang itu?

Tersenyum, dan merelakannya pergi? Atau kita mesti menangis dan memohon pdanya agar tidak pergi?

Lalu, orang itu adalah orang yang sangat berarti untuk hidupmu. Seandainya kamu kehilangan dia, rasanya kamu bener2 hampa, gak ada orang bisa diajak untuk ketawa-ketawa, bagi cerita, curhat, jalan bareng kemana-mana…

Apa yang mesti kamu lakukan?

permohonan maaf, untuk teman2ku yang aQ tidak mengerti rasanya kehilangan seseorang yang amat disayangi. ternyata rasanya kehilangan orang yang paling disayangi itu, bner2… sakit…